
Kebangkitan
Napoleon Bonaparte di Perancis membawa dunia pada perang besar antara
Perancis melawan Inggris. Walaupun pertempuran langsung pasukan Grandee
Armee-nya Napoleon Bonaparte melawan kerajaan Inggris, Prusia dan Rusia
terjadi di benua Eropa (sehingga perangnya dinamakan Perang
Continental), tapi perang besar ini juga melibatkan koloni masing-masing
negara. Pertempuran besar yang dicatat sejarah adalah pertempuran di
Austerlitz, di laut Trafalgar Spanyol dan pertempuran besar di delta
Sungai Nil Mesir. Sedangkan pertempuran terbesar di luar Eropa akhirnya
terjadi di Jawa, tepatnya di Batavia melibatkan 15.000 pasukan Inggris
melawan 12.000 serdadu gabungan Belanda, Perancis dan Jawa. Inilah
pertempuran besar yang sering dilupakan oleh orang-orang Indonesia,
padahal sudah tercatat dalam sejarah versi Perancis
(L’ile de Java Sous la Domination Francaise karya Octave JA Collet yang diterbitkan di Brussel, Belgia, tahun 1910) maupun versi Inggris (salah satunya memoar
Mayor William Thorn dengan judul
The Conquest of Java, diterbitkan di London 1815)
Sejak tahun 1807,
Lord Minto memang sudah
merencanakan untuk menyerbu dan mengambilalih Jawa dan Nusantara dari
kekuasaan Belanda-Perancis. Inilah yang sudah diantisipasi oleh Daendels
dengan menambah jumlah pasukan sampai 10.000 prajurit dan membangun
benteng Meester Cornelis
di Jatinegara lengkap dengan saluran air sedalam 3 meter dan selebar 4
meter yang membentang di belakang Jalan Matraman sepanjang Jalan
Palmeriam (Jakarta Pusat, sekarang) lalu ke arah selatan dekat Jalan
Kemuning dekat Stasiun Jatinegara dan Jatinegara Timur. Konon karena
dulunya dipenuhi aneka macam meriam, makanya lokasi tersebut dinamai
Palmeriam,.
Daendels juga mendirikan pabrik
senjata di Semarang dan Surabaya serta memperbaiki Jalan Raya Pos Anyer –
Panarukan untuk mempercepat mobilitas pasukannya. Sayang persiapan
Daendels yang begitu baik ini tidak dilanjutkan oleh penerus Daendels,
Gubernur Jenderal Janseens sehingga pertempuran besar ini akan berakhir
memalukan.
Armada Inggris berangkat dari Calcutta dan Madras di pantai timur
India menuju Penang. Sebelumnya mereka sempat transit di Pulau Bangka.
Konon, oleh Inggris pulau ini dinamakan St York Island dan ibu kotanya
dinamakan Minto untuk menghormati Lord Minto. Dari kata Minto ini
kemudian berkembang menjadi kota Muntok, seperti yang kita kenal
sekarang ini. Dari Penang, armada Inggris ini kemudian berlabuh di lepas
pantai Sunda Kelapa. Mayor William Thorn dari Angkatan Darat Inggris
melaporkan dalam memoarnya (berjudul Conquest of Java) bahwa armada
Inggris terdiri dari 4 kapal perang battleship, 14 fregat, 7 sloop, 8
penjelajah (cruiser) serta 57 kapal transpor pengangkut pasukan. Inilah
armada invasi Inggris terbesar sebelum Perang Dunia ke 2.
Sebelum mendaratkan marinirnya Lord Minto mengirimkan utusan yang meminta Belanda-Perancis menyerah tanpa syarat.
Janssens
menolak permintaan ini. Tapi sayangnya, Janssens beserta Jenderal Jean
Marie Jumel (komandan tempur yang dibantu 150 Perwira Perancis dan
ribuan prajurit) tidak melakukan tindakan apapun untuk menghalau Inggris
dari pantai Batavia. Alih-alih menyerang armada Inggris dengan tembakan
meriam pertahanan pantai, pasukan Perancis – Belanda malah membakar
gudang logistik milik pemerintah dan merusak beberapa sarana umum
seperti jembatan. Tentu saja penduduk lokal memandang tindakan
pemerintah ini sebagai tindakan sia-sia. Mereka lalu menjarah dan
merampok gudang-gudang yang belum sempat dibakar. Di jalan-jalan saat
itu banyak berceceran kopi, teh dan rempah-rempah berikut peti dan
karung-karungnya. Sejarah memang berulang, penjarahan ini terjadi lagi
pada tahun 1998 yang lalu, suatu kebodohan dan kejahatan massal yang
terus berulang kembali.
Tanggal 4 Agustus 1811, pasukan Inggris di bawah komando Letnan
Jenderal Samuel Auchmuty akhirnya mendarat di Cilincing. Pendaratan ini
sesuai dengan estimasi Daendels dulu bahwa Inggris pasti akan mendarat
di Cilincing karena daratannya agak menjorok ke laut dan tiada
penghalang di sini.
Tanggal 6 Agustus 1811 Inggris mencoba menyerang langsung Meester
Cornelis melalui Serani dan Pulo Gadung, tapi serangan ini dibatalkan
karena banyak prajurit Inggris yang pingsan akibat kepanasan bergerak di
tengah persawahan.
Tanggal 7 Agustus 1811, serangan akhirnya dialihkan melalui Tanjung
Priok langsung ke Ancol melalui jembatan Kali Slokkan (kelak “selokan”
adalah istilah untuk saluran air) yang telah dihancurkan Belanda.
Pertempuran sengit tidak terjadi karena 2 batalyon Perancis-Belanda yang
berada di sana sudah mengundurkan diri.
Tanggal 8 Agustus 1811, Inggris memasuki kota Batavia yang sudah
ditinggal kosong oleh pasukan Perancis-Belanda. Alih-alih menemukan
perlawanan dari pasukan Janssens dan Jumel, marinir Inggris malah
menemukan penduduk yang tengah menjarah gudang-gudang logistik. Karuan
saja penjarahan ini sontak berhenti ketika penduduk melihat kedatangan
pasukan Inggris itu.
Kemudian pasukan Inggris melalui Molenvliet (sekarang Jalan Gajah
Mada) dan Noordwijk (sekarang Jalan Juanda), bergerak menuju asrama
tentara di Weltevreden (sekarang Hotel Borobudur) yang ternyata sudah
kosong melompong.
Baru tanggal 12 Agustus 1811 pasukan Inggris mendapatkan perlawanan
pasukan Perancis – Belanda dan Bugis di Struiswijk (sekarang Jalan
Paseban) selama sehari penuh. Gabungan pasukan Perancis – Belanda –
Bugis akhirnya mundur ke pertahanan terakhir di Meester Cornelis.
Inilah yang kemudian tampak aneh. Selama 10 hari berikutnya pasukan
Perancis – Belanda benar-benar tidak melakukan sesuatu untuk menghadapi
musuh. Mereka hanya menjalankan pertahanan pasif dengan sesekali
membombardir pertahanan tentara Inggris. Hari-hari pun dijalani secara
normal, bukan dalam kondisi siaga tempur. Bahkan malam hari pun mereka
tidur seperti biasa, seakan-akan berharap musuh akan begitu baiknya pada
mereka sehingga hanya menyerang kalau mereka sudah bangun, mandi dan
sarapan dulu.
Demikianlah akhirnya menjelang tengah malam tanggal 25 – 26 Agustus
1811, Auchmuty mengadakan serangan mendadak ke Meester Cornelis,
tepatnya ke pertahanan Perancis di dekat Jalan Kayumanis 10. Pasukan
Belanda pun kocar-kacir nggak karuan. Pada serangan pertama, benteng di
sisi timur Slokkan dapat direbut. Bahkan menjelang matahari terbit
pertempuran sudah selesai.
Menyadari garis pertahanan sudah dijebol pihak lawan, beberapa
perwira Perancis meledakkan gudang amunisi di dekat Kompleks TNI AD Urip
Sumoharjo. Konon, karena itulah di dekat situ ada gang bernama Gang
Solitude (kesunyian), karena ketika prajurit Inggris sudah sampai di
situ, mereka hanya menemukan kesunyian berupa puing-puing bangunan dan
mayat yang berserakan. Kemudian pasukan berkuda Inggris melakukan
pengejaran pasukan Perancis – Belanda yang melarikan diri ke arah
Buitenzorg (Bogor).
Inilah akhir dari pertempuran Batavia yang sangat memalukan. Pasukan
Perancis – Belanda ternyata bertempur sebagai pengecut. 5.000 prajurit
berhasil ditawan, termasuk di dalamnya ada 250 perwira. 300 pucuk meriam
jatuh ke tangan Inggris lengkap dengan amunisinya.

Bagaimana
dengan Janssens? Dia berhasil mencapai Bogor lalu melalui jalan darat
bergerak ke Semarang. Dia mengumpat-umpat nggak karuan karena pasukan
cadangan dari kraton Jawa tidak kunjung datang. Tapi akhirnya dia
berhasil menempatkan pasukan cadangannya itu di kaki Gunung Ungaran.
Tapi apa yang terjadi? Dengan satu kali tembakan meriam saja pasukan
cadangan itu bubar melarikan diri, padahal pasukan Inggris yang mengejar
di Jawa Tengah hanya berjumlah 1.000 orang serdadu saja. Janssens
akhirnya menyerah di Kali Tuntang, di utara Salatiga dengan
ditandatanganinya Kapitulasi Tuntang tanggal 18 September 1811. Isi
Kapitulasi Tuntang adalah bahwa Jawa dan sekitarnya dikuasai Inggris,
semua tentara Belanda menjadi tawanan Inggris dan orang Belanda boleh
dijadikan pegawai Inggris. Janssens kemudian dijadikan tawanan Inggris.
Inilah akhir hikayat Batavia nan pengecut. Berbeda dengan pertempuran
Troya yang menghasilkan pahlawan, pertempuran Batavia hanya
menghasilkan para pengecut.
Tapi apakah ini kepengecutan terakhir dari Batavia ? Ternyata tidak.
Sejarah mencatat bahwa tiada perlawanan terhadap serbuan Jepang di
Jakarta karena Belanda memilih mundur ke arah Kalijati, berujung pada
penyerahan kalah Belanda kepada bala tentara Nippon tanggal 8 Maret
1942.
Sumber : https://belogngeblog.wordpress.com/2012/08/17/pertempuran-15000-pasukan-inggris-vs-perancis-belanda-th-1811-di-cilincing/